Tips Untuk Para Orangtua dan Guru

Disusun oleh : Sunarto)*
Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar. Jika strategi orang tua mendampingi belajar anak dan cara mengajar guru sesuai dengan gaya belajar anak, maka kemampuan belajar anak dapat berkembang lebih baik. Harapannya perolehan belajarnya pun akan meningkat. Setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Bagaimana gaya belajar anak Bapak/Ibu?
Quantum Learning mengenal 3 gaya belajar, yaitu: “auditorik, visual, dan kinestetik. Walaupun tiap orang belajar dengan ketiga gaya belajar itu pada tahapan tertentu, namun kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.
Strategi mengajar apa yang diterapkan terkait gaya belajar anak Bapak/Ibu?

I.	Gaya Belajar Auditorik (Belajar Dengan Mengandalkan Indera Pendengaran)
Anak yang bergaya belajar auditorik biasanya suka melirik ke kiri/kanan, berbicara datar atau kalau berbicara sedang-sedang saja. Ia lebih mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (indera pendengarannya). Untuk itu orangtua/guru harus memperhatikan si anak hingga ke indera pendengarannya. 
Anak yang bergaya belajar auditorik dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi lisan dan mendengarkan apa yang dikatakan guru. Ia dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendah) suara, dan tempo (cepat-lambat) pembicaraan dan hal-hal auditorik lainnya. Informasi tertulis seringkali mempunyai makna yang minim bagi anak auditorik. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan pemutaran kaset/CD, MP3, dll.

A.	Ciri-Ciri Umum Anak Bergaya Belajar Auditorik
Pada umumnya, anak bergaya belajar auditorik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.	Ia suka bicara pada dirinya sendiri saat beraktivitas apapun.
2.	Ia suka berpenampilan rapi.
3.	Ia mudah terganggu oleh keributan.
4.	Ia lebih senang belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat.
5.	Ia senang membaca dengan keras dan mendengarkan.
6.	Ia sering menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca.
7.	Ia berpotensi menjadi pembicara yang fasih.
8.	Ia lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.
9.	Ia lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik.
10.	Ia sering bermasalah dengan aktivitas visual.
11.	Ia berbicara dalam irama yang terpola.
12.	Ia dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara.
13.	Ia mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
14.	Ia mengenal banyak sekali lagu/iklan TV, dan bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplit.
15.	Ia kurang suka tugas membaca (dan pada umumnya bukanlah pembaca yang baik). 
16.	Ia kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya. 
17.	Ia kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis. 
18.	Ia kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya, seperti: hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman yang baru, dan sebagainya.

B. Tips Strategi Membelajarkan Anak Bergaya Belajar Auditorik
Ada beberapa tips bagi orangtua/guru dalam menghadapi anak bergaya belajar auditorik ini, yaitu:
1.	Ajaklah anak untuk ikut berdiskusi baik keluarga maupun di kelas.
2.	Doronglah anak untuk membaca materi pelajaran dengan suara yang keras.
3.	Gunakanlah musik, bunyi-bunyian dan rekaman tutur (suara manusia) untuk membelajarkan anak.
4.	Diskusikan ide dengan anak secara lisan.
5.	Biarkan anak merekam materi pelajaran ke dalam kaset/CD,  dll. dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur (bila memungkinkan).
Semoga bermanfaat bagim orangtua/guru, dan nantikan bagian berikutnya.

)* Orangtua anak dan salah satu pengurus Komite SDIAF Magelang 2010-2012.