Anak itu seperti gelas. Bila diisi setengah, orang akan mengatakan bahwa gelas itu tidak penuh dan airnya kurang. Bila diisi sepenuh-penuhnya orang akan bilang bahwa gelas luber dan airnya tumpah ke mana-mana.
Jadi perlakukanlah anak sesuai porsi. Bila terlalu banyak tuntutan dia akan putus asa. Terlalu banyak kegagalan yang dibuat sehingga terlalu banyak kritik yang datang. Tetapi bila tidak ada tantangan sama sekali, ia tidak akan terpacu untuk berprestasi. Hasil yang dicapai terlalu jauh di bawah potensi. Tidak ada kepuasan. Dan ia akan cepat tersinggung bila ada orang meremehkannya.
Menghafal adalah bagian dari proses pertumbuhan jaringan otak selain belajar dan berpikir. Karena itu menghafal harus dijadikan sebuah tantangan yang menarik. Jangan terlalu berat, tetapi juga tidak terlalu remeh.
Surat-surat Al-Quran yang bisa dihafal ayat per ayat adalah porsi tantangan yang tepat bagi tiap anak muslim. Tambahlah referensi batin anak dengan bahan yang baik. Bukankah menurut Pablo Picasso tingkat kreativitas anak amat ditentukan banyak sedikitnya referensi batin yang ia miliki?
Berikut ini adalah beberapa petunjuk sederhana bagi Anda saat mendampingi putra-putri tercinta menghafal Al-Quran:
1. Pilih waktu ketika anak dalam keadaan rileks dan tenang.
2. Tidak perlu memaksakan hasil tetapi bila perlu berikanlah hadiah kecil bila anak berhasil.
3. Terangkan makna ayat dengan sedikit bercerita. Anda dapat mengolah gambar-gambar yang ada menjadi cerita yang menarik.
4. Adakan semacam kuis hafalan di saat-saat santai dan luang.
5. Yang terpenting dari semuanya adalah apakah Anda juga turut menghafal atau tidak? Sebab bila tidak, Anda malah mengabaikan satu hal utama dalam mendidik, yaitu keteladanan.
)* Sumber: buku Hafalan Surat-surat Pendek Al-Quran Bergambar untuk Anak-anak.
Ditulis kembali dan dikreasikan oleh Alif Azzaki (kelas 3b, email: alifazzaki@gmail.com) dan Aini Savitri (kelas 2a, email: ainisavitri@gmail.com).